Zaman
modern sekarang ini banyak masyarakat yang lebih menyukai makanan cepat saji
dan praktis. Makanan yang cepat saji sekaligus praktis sangat sesuai dengan
kesibukan mahasiswa, pekerja kantor, aktivis sekolah, dan beberapa orang yang
sibuk dengan pekerjaan sehingga terkadang melupakan jadwal makan.
Yang
menjadi trend pada zaman sekarang adalah banyaknya makanan cepat saji yang
lebih cenderung mengarah ke junk food
atau makanan sampah yaang tinggi lemak, sodium dan gula. Makanan cepat saji
yang ada sekarang lebih banyak ditemukan cenderung meniru dunia barat dimana
banyak makanan sejenis tempura, burger, pizza, spagetti, dan lain-lain. Padahal
jika ditinjau dari keberadaan makanan cepat saji yang banyak digemari
masyarakat tersebut, semakin lama akan semakin melunturkan eksistensi makanan
tradisional daerah yang sebenarnya sangat berpotensi untuk tetap laku di
pasaran.
Salah satu
jenis makanan tradisional yang terlupakan oleh masyarakat adalah sawut. Sawut
adalah makanan tradisional khas Jawa yang berbahan dasar parutan kasar singkong.
Makanan ini dapat digunakan untuk menggantikan makanan pokok dikarenakan banyak
mengandung karbohidrat kompleks, beberapa vitamin dan mineral yang diperlukan
tubuh dari singkong.
Pelestarian
makanan tradisional memerlukan usaha yang lebih keras dikarenakan akan selalu
dikejar dengan perkembangan trend modernisasi dalam masyarakat. Kecenderungan
untuk memilih makanan cepat saji dan berkebaratan akan menjadi faktor yang
mempercepat melunturnya makanan tradisional di kalangan masyarakat. Padahal
pemanfaatan komoditi pangan lokal akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian
dalam negeri.
Melihat
beberapa realita yang telah terpaparkan di atas, diperlukan sebuah terobosan
baru untuk memperkenalkan dan mengakrabkan kembali makanan tradisional kepada
masyarakat luas. Pengenalan makanan tradisional kepada masyarakat dapat dimulai
dengan pengenalan sawut. Sawut merupakan makanan tradisional yang dapat
digunakan sebagai pengganti makanan pokok
seperti beras. Pemanfaatan sawut dalam variasi jenis rasa mampu menjadikan
alternatif baru dalam mencitrakan makanan tradisional yang lebih memasyarakat.
Kemasan yang menarik dan unik juga akan sangat membantu memberikan efek positif
pada masyarakat yang tidak akan lagi menganggap bahwa makanan tradisional
adalah makanan yang kuno dan ketinggalan zaman.
Inovasi pangan tradisional sawut ini diberi nama
SAWURI ( Sawut Onigiri ), yaitu sawut yang dibuat dan dipasarkan dengan kemasan
onigiri dengan berbagai pilihan rasa seperti coklat, blueberry, keju, sayur,
daging dan ikan. Onigiri adalah sejenis nasi kepal yang berasal dari Jepang
yang mulai banyak ditemukan di pasaran. Dengan kemasan onigiri akan lebih
praktis dan lebih unik di mata masyarakat. Selain dikemas dengan kemasan
onigiri, juga disertakan pesan-pesan dan informasi mengenai kesehatan dan
kebudayaan di Indonesia. Informasi yang ditambahkan dalam kemasan akan semakin
menambah pengetahuan konsumen dan harapannya akan semakin memperkenalkan
kebudayaan Indonesia kepada konsumen. (PKMK yang didanai DIKTI. Ditulis oleh Mariana
Ulfa -mahasiswa Ilmu Keperawatan UGM-, dkk).

Sebagai orang yang cerdas kita harus berinovasi untuk kemajuan diri sendiri maupun negara. Saya sendiri pun saat ini berinovasi, menjadi pengusaha membuat Kemasan Makanan yang diperuntukan untuk pelaanggan menengah ke atas.
BalasHapus