Sohibul Quran

Sohibul Quran
Allahumarhamna bil quran. Allohumaj'al khoiro umri aakhirohu wa khoiro amali khowatimahu wa khoiro ayyami yauma alqokafiihi

Selasa, 21 Oktober 2014

KETERBATASAN MANUSIA, MENANDAKAN BAHWA IA HIDUP

KETERBATASAN MANUSIA, MENANDAKAN BAHWA IA HIDUP
(tulisan ini terinspirasi dari mata kuliah filsafat yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit pada tanggal 15 Oktober 2014)

            Komunikasi merupakan suatu alat yang dijadikan sarana untuk memanusiakan manusia. Semua orang di bumi ini berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhannya dalam setiap lini kehidupan. Ada hal penting dalam berkomunikasi, yakni mampu merasakan dan mengerti orang yang mengajak maupun diajak komunikasi. Sifat mengerti perlu dimiliki, untuk tercapainya tujuan berkomunikasi, sehingga harapan mengenai hal yang ingin disampaikan bisa tersampaikan. Sedangkan sifat merasakan diperlukan untuk mengambil kesimpulan dari suatu ekspektasi yang muncul saat berkomunikasi. Permasalahannya, apakah mungkin manusia itu bisa memahami orang lain? Padahal, memahami diri sendiri pun sulit, apalagi memahami orang lain.
            Hidup itu memiliki 2 prinsip dasar, yaitu identitas dan kontradiksi. Identitas, hanya terjadi di dalam pikiran dan benak, karena identitas ini hanya terjadi di akherat saja. Contoh identitas adalah seseorang yang mengatakan aku adalah aku, pada kenyataannya dia hanya mengatakan hal itu di ruang dan waktu tertentu, bisa jadi saat dia berpindah posisi, berpindah ruang dan waktu, ia akan mengatakan hal yang berdeda bahkan kontradiksi dari apa yang dipikirkannya tadi. Itulah, mengapa filsafat mengatakan bahwa hidup itu kontradiksi, karena hidup ini sensitif antara ruang dan waktu. Contoh lainnya yaitu tentang matematika, ketika matematika itu masih berada di dalam pikiran, maka dia adalah benar. Namun, ketika diturunkan ke bumi sudah sensitif dan tergantung ruang dan waktu. “Diriku yang sekarang beda dengan yang nanti. Maka, tiadalah orang sama dengan namanya. Hanya Allah yang mampu sama dengan nama-Nya” begitu ungkapan dari bapak Prof. Dr. Marsigit berkaitan dengan kontradiksinya kehidupan ini.
        Selain dalam kontradiksinya, hidup ini juga merupakan pilihan. Pilihan menunjukkan adanya keterbatasannya manusia, sedangkan keterbatasan menunjukkan bahwa ia adalah hidup.  Contoh, Prof. Dr. Marsigit memiliki miliaran kata yang berhak untuk dikatakan saat kuliahnya, namun yang keluar dari lisannya hanya beberapa, bahkan antri untuk keluar. Andaikan pak Marsigit sempurna, pak Marsigit bisa menyampaikan apa yang ada dibenaknya saat itu, namun karena pak Marsigit terbatas, kata-kata itu antri dan efeknya bisa dipahami oleh manusia. Hal yang sama pun terjadi pada peserta didik mata kuliah beliau, apabila peserta didiknya sempurna, ia akan bisa memahami apa yang ingin diutarakan Pak Marsigit meskipun beliau hanya diam. Akan tetapi, tidak demikian adanya, peserta didik hanya bisa menerka, tanpa mengetahui hal apa yang akan disampaikan oleh Pak Marsigit.

            Patut disyukuri bahwa manusia itu terbatas, orang yang dianggap orang paling hebat pun sangat penuh dengan keterbatasan. Apabila manusia tidak terbatas, dia akan sulit untuk berkomunikasi, akan sulit orang lain mencerna apa yang ia sampaikan. Maha suci Allah yang menciptakan makhluk hidup dan kehidupannya dalam kondisi penuh keterbatasan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar