KETERBATASAN MANUSIA, MENANDAKAN BAHWA
IA HIDUP
(tulisan
ini terinspirasi dari mata kuliah filsafat yang diampu oleh Prof.
Dr. Marsigit pada tanggal 15 Oktober 2014)
Komunikasi merupakan suatu alat yang
dijadikan sarana untuk memanusiakan manusia. Semua orang di bumi ini
berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhannya dalam setiap lini kehidupan. Ada hal
penting dalam berkomunikasi, yakni mampu merasakan dan mengerti orang yang mengajak
maupun diajak komunikasi. Sifat mengerti perlu dimiliki, untuk tercapainya
tujuan berkomunikasi, sehingga harapan mengenai hal yang ingin disampaikan bisa
tersampaikan. Sedangkan sifat merasakan diperlukan untuk mengambil kesimpulan
dari suatu ekspektasi yang muncul saat berkomunikasi. Permasalahannya, apakah
mungkin manusia itu bisa memahami orang lain? Padahal, memahami diri sendiri
pun sulit, apalagi memahami orang lain.
Hidup itu memiliki 2 prinsip dasar,
yaitu identitas dan kontradiksi. Identitas, hanya terjadi di dalam pikiran dan
benak, karena identitas ini hanya terjadi di akherat saja. Contoh identitas
adalah seseorang yang mengatakan aku adalah aku, pada kenyataannya dia hanya
mengatakan hal itu di ruang dan waktu tertentu, bisa jadi saat dia berpindah
posisi, berpindah ruang dan waktu, ia akan mengatakan hal yang berdeda bahkan
kontradiksi dari apa yang dipikirkannya tadi. Itulah, mengapa filsafat
mengatakan bahwa hidup itu kontradiksi, karena hidup ini sensitif antara ruang
dan waktu. Contoh lainnya yaitu tentang matematika, ketika matematika itu masih
berada di dalam pikiran, maka dia adalah benar. Namun, ketika diturunkan ke
bumi sudah sensitif dan tergantung ruang dan waktu. “Diriku yang sekarang beda
dengan yang nanti. Maka, tiadalah orang sama dengan namanya. Hanya Allah yang
mampu sama dengan nama-Nya” begitu ungkapan dari bapak Prof. Dr. Marsigit
berkaitan dengan kontradiksinya kehidupan ini.
Selain dalam kontradiksinya, hidup
ini juga merupakan pilihan. Pilihan menunjukkan adanya keterbatasannya manusia,
sedangkan keterbatasan menunjukkan bahwa ia adalah hidup. Contoh, Prof. Dr. Marsigit memiliki miliaran
kata yang berhak untuk dikatakan saat kuliahnya, namun yang keluar dari
lisannya hanya beberapa, bahkan antri untuk keluar. Andaikan pak Marsigit
sempurna, pak Marsigit bisa menyampaikan apa yang ada dibenaknya saat itu,
namun karena pak Marsigit terbatas, kata-kata itu antri dan efeknya bisa
dipahami oleh manusia. Hal yang sama pun terjadi pada peserta didik mata kuliah
beliau, apabila peserta didiknya sempurna, ia akan bisa memahami apa yang ingin
diutarakan Pak Marsigit meskipun beliau hanya diam. Akan tetapi, tidak demikian
adanya, peserta didik hanya bisa menerka, tanpa mengetahui hal apa yang akan
disampaikan oleh Pak Marsigit.
Patut disyukuri bahwa manusia itu
terbatas, orang yang dianggap orang paling hebat pun sangat penuh dengan
keterbatasan. Apabila manusia tidak terbatas, dia akan sulit untuk
berkomunikasi, akan sulit orang lain mencerna apa yang ia sampaikan. Maha suci
Allah yang menciptakan makhluk hidup dan kehidupannya dalam kondisi penuh
keterbatasan.




